Sejak dulu saya menggemari kuliner. Apalagi jika sedang traveling. Kuliner adalah kegiatan wajib setelah menulis. Di Banten banyak sekali kuliner khas lokalnya. Dan yang paling saya sukai adalah kuliner rabeg Banten, daging kerbau yang dipotong kecil-kecil, diberi bumbu dan rasanya pedas sekali. Hampir sama dengan daging rendang ala Minang. Pedas dan bikin kedua mata terbelalak lebar serta keringat segar mengucur! Sebagai backpacker Indonesia pasti sudah mencicipi kan!
SEJAK MASA SULTAN
Bicara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya soal ibadah haji saja. Lebih dari itu, persoalan makanan pun masih ada kaitannya. Konon di daerah Arab ada sebuah kota yang bernama Rabeg. Sebagaimana kita tahu, Rabeg adalah makanan khas Banten. Hal ini diungkapkan oleh H. Naswi (55), pemilik rumah makan Rabeg di jalan Mayor Syafe’I No.30, kampung Magersari, Serang. “Tepatnya antara Mekkah dan Madinah ada satu kota bernama Rabeg,” kata H. Naswi mantap. Menurut ceritanya lagi, di kota itu tersedia makanan khas dari daging kambing. Namun dikenalnya bukan Rabeg. Sedangkan di kota Serang Rabeg merupakan salah satu panganan khas Banten. “Mungkin nama Rabeg sebagai makanan khas Banten itu diambil dari sana kota Rabeg di Arab,” ujarnya lagi. Rabeg hanya bisa ditemukan di Kota Serang, salah satunya Rabeg H. Naswi.
Bicara sejarah Rebeg sendiri di Banten. Konon, menurut H. Naswi Rabeg sudah ada sejak jaman pemerintahan Sultan Hasanudin Banten. Hingga saat ini makanan yang terbuat dari daging kambing itu masih dipertahankan. Bahkan setiap kali ada acara pernikahan, khitanan, dan acara lainnya selalu dijadikan menu utamanya.
Karena sudah jadi tradisi warga Serang, maka kakek dan orangtua H. Naswi pun berjualan Rabeg. Saat itu, panganan khas ini dijual kala ada acara tontonan tradsional warga seperti: Ubrug, wayang, dan jaipongan. “Dahulu jualannya di Tegal Lembau yang kini jadi Komplek Titan Arum, Legok, Serang,” terang suami Hj. Sumiati ini.
Kata orang bijak, mewariskan harta kepada anak-cucu lama-lama akan habis juga, apalagi jika tak mampu menjalankannya. Tapi jika anak-cucunya diwariskan ilmu dan pengalaman maka sampai tujuh turunan pun tak akan habis. Hal itu pun dialami H. Naswi dengan ilmu dan pengalaman yang didapatkan dari orangtuanya yang kemudian dipraktekkan sendiri dengan membuka usaha Rabeg. “Tahun 1975 saya sudah fokus jualan sendiri,” akunya.
Saat itu perputaran roda usaha H. Naswi masih dalam tahap penjajakan. Untuk memasarkannya dia mesti berpindah-pindah tempat; di Kota Cilegon dari tahun 1975-1976, lalu pindah ke Pasar Lama 1977-1982, Pasar Induk Rau 1982-1997, Kantin di Pengadilan Negeri Serang pada 1997-2006 dan di Jalan Mayor Safe’I, Margersari, Serang dari tahun 2006 sampai sekarang. Kendati penjual rabeg banyak ditemukan di Kota Serang, Lelaki bercucu empat ini tak takut dengan persaingan tersebut. Menurutnya, setiap olahan punya cita rasa khas masing-masing. Dia pun tak ragu-ragu memberitahukan soal resep bahan dan cara pembuatannya. Adapun bahan-bahan Rabeg khas H. Naswi adalah daging kambing, merica, bawang merah, bawang putih, jahe, laos, kayu manis, pala, kecap, garam, minyak sayur, dan cuka.
Cara pembuatannya sendiri tidak terlalu rumit. Daging kambing direbus sekitar 30 menit, diangkat lalu ditiriskan. Iris-iris daging kambing seukuran dadu. Lalu tumis semua bahan bumbu, kecuali garam, merica, kecap, dan cuka, yang sudah disisir. Setelah itu masukkan daging yang sudah diiris tadi. Tuangkan air sisa rebusan. Lalu diberi kecap, merica, cuka, garam secukupnya sampai daging benar-benar empuk.
DIKUNJUNGI ARTIS
Warung makan Rabeg H. Naswi buka dari pukul 08.00 s/d 21.00 WIB. Buat Anda yang belum sarapan, atau makan siang bisa mampir ke tempatnya. Cukup mengeluarkan uang Rp 13.ribu maka Anda sudah bisa menikmati seporsi Nasi Rabeg. Namun jika kamu ingin makan Rabegnya saja tanpa nasi, justru lebih murah hanya merogoh kocek Rp 10 ribu. Aroma khasnya juga lebih berasa.
Selain Rabeg, di sini juga juga tersedia nasi uduk, nasi putih, empal, sate kambing dan sapi, sop kambing dan sapi, soto kambing dan sapi, dan ayam bakar. untuk menambah kenikmatan tersaji juga jus alpukat, jus jeruk, air mineral, dan soft drink sprite, coca cola, dan fanta, yang bisa menyegarkan tenggorokan.
Menurut H. Naswi sehari warung Rabegnya bisa menghabiskan sepuluh kilogram daging. Soalnya pengunjungnya aja dari beragam kalangan. “Selain masyarakat biasa, rumah makan saya juga pernah dikunjungi artis seperti, William Wongso, Didin Bagito, Beno Bolue, Dorce Gamalama, dan Pak Hutama (Cinta Fitri),” ujarnya.
Menurut pengakuan salah satu pengunjung, Rabeg H. Naswi ini beda dengan yang lain. “Rasanya enak, sih. Rasanya beda apalagi kuahnya,” kata Eris, pegawai Kanwil Kota Serang, yang sering berkunjung ke warung nasi Rabeg. Saking enaknya jadi sering mampir lagi. Kebanyakan tempat-tempat makan atau restoran tetap buka dihari libur namun rumah makan Rabeg, H. Naswi malah tutup. “Karena tiga karyawan saya masih muda-muda jadi saya liburkan saja. Biar menikmati hiburan,” jelasnya.
MALAYSIA
Tidak stabilnya harga sembako dan daging menjadi kendala dan keluhan para pedagang, terutama pedagang kecil. Dampak ini sudah pasti berpengaruh pada mutu dan kualitas makanan tersebut. Apalagi untuk saat ini harga kambing Rp 45.ribu perkilogram.
“Kalau harga beli naik, jual pun kami naikkan,” tutur bapak dari Aulia ini. Selain khas Serang, katanya lagi, tetap tak mengurangi bahan sedikitpun. Karena jika sampai dikurangi maka rasa dan aroma khasnya akan sedikit hilang. Karena olahannya memberikan rasa yang istimewa, H. Naswi pernah ditawari rekannya untuk buka cabang di Tangerang, Bandung, Malaysia, Singapura. Namun, dia menolak karena alasan usia. Luar biasa. Ternyata Rabeg Serang dilamar untuk buka cabang di Malaysia dan Singapura juga. Tapi awas, nanti diklaim lagi. (GG/Laporan dan foto Harir Baldan)















