Pesawat Batavia Air landing di Palu pada Jum'at 15 Juni, pukul 16:30 WIT. Ari, Ikbal, dan Ismail menjemput. Berangkat dari Jakarta pukul 10:30 WIB. Mesti transit di Surabaya dulu. Saya membeli tiket secara online pada 27 Februari lalu seharga Rp. 1,507,800. Jika beli pada hari H, haga tiket Batavia Jakarta - Palu PP mencapai Rp. 2,500,000. Seorang penumpang mengatakan, "Saya beli Palu - Jakarta Rp. 1,2 jt." Untung Tias cekatan, melacak di internet harga-harga promo. Tiket ke kota-kota di Indonesia Timur sangat mahal. Pada 1 Juni lalu, saya ke Goronta;o. harga tiket Batavia Jakarta-Gorontalo-Jakarta, transit di Surabaya dan Makasar kena Rp. 2,5 jt. Kata Marvin Sitorus, pemilik www.hagahotel.com di Bali, "Itulah kenapa pariwisata di Indonesia Timur nggak maju-maju. Mendingan ke Singapura. Duit segitu, gua bisa bacpacker-an di Singapura-Malaysia-Thailand!" Menurut kamu, bagaimana...
Selama saya di Gorontalo (1 - 5 Juni), saya tidak menemukan turis mancanegara. Padahal panorama gorontalo sangat menjual. Pantai Saronde, misalnya. wisata sejarahnya juga menarik. Ada benteng-benteng peninggalan Portugis dan masjid tua raja-raja. Keragaman masyarakatnya juga menarik hati. Wisata kulinernya juga; saraba (wedang jahe) dan milu siram (sop jagung).
Di Palu juga bernasib sama. Kontur tanah yang berbukit, teluk Palu, pantai dengan laut biru, sangat memesona. Tapi, kota Palu memang sepi. Kesalahan bukan terletak di masyarakatnya, tapi karena pariwisata di timur belum menjadi prioritas.
Saat saya ke Gorontalo memakai Batavia dan transit di Surabaya, penumpang yang ke Makasar hanya sekitar 20 orang. Kemudian dari Makasar ke Gorontalo bertambah jdi 40 orang. Saya pikir, karena orang-orang yang berkunjung ke Gorontalo sedikit, maka harga tiket pesawat pun jdi mahal. Sebetulnya ada kapal penumpang seperti umsini, Kambuna yang melayani rute Jakarta - Surabaya - Makasar - Palu atau ke Gorontalo, tapi bisa berhari-hari.
Sebagai backpacker, ini adalah tantangan.(*)

















